Saat Perkembangan Teknologi Menjadi Ancaman (Review Platina Data karya Keigo Higashino)
Platina Data cukup membuat saya tercengang! Bagaimana mungkin, novel yang dirilis pada tahun 2010 di negara asalnya, kini masih relevan di tahun 2025? Rasa-rasanya, Platina Data tidak akan habis tergerus zaman bila terus bersanding dengan teknologi yang semakin masif berkembang.
Ya walaupun perkembangan teknologi tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab ada kalanya kecanggihan teknologi dapat menjadi dua belah mata pisau yang mematikan.
Sama halnya pada kisah Platina Data ini, rencana awal perkembangan teknologi untuk mengurangi tindak kejahatan, malah menjadi petaka dan dimanfaatkan oleh pihak yang haus akan kekuasaan. Ah, memang ada-ada saja tingkah manusia!
Ngomong-ngomong, Platina Data sudah pernah diadaptasi menjadi film loh! Film dengan judul yang sama yakni Platina Data pada 2013. Jadi nggak heran sih, kisah dengan genre thriller, suspend dan sci-fi mendapat perhatian khusus untuk dijadikan sebuah mahakarya dalam bentuk lainnya, salah satunya film.
Lantas bagaimana sih kisah dari Novel Platina Data karya Keigo Higashino ini?
![]() |
| Platina Data |
Identitas Buku
Judul : Platina Data
Pengarang : Keigo Higashino
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, 2025
Tebal : 480 hlm.
Secara singkatnya Platina Data bercerita tentang sebuah proyek pemerintah dengan memanfaatkan teknologi untuk mengurangi tindak kejahatan, dengan cara setiap individu perlu memberikan sampel DNA untuk diujikan.
Dengan adanya teknologi ini, setiap tindak kejahatan yang meninggalkan jejak seperti sidik jari dapat diketahui dengan mudah berdasarkan profiling baik ciri fisik, maupun DNA yang berhubungan dengan tersangka yakni keluarga. Nggak tanggung-tanggung, bahkan karakter pun dapat diidentifikasi dengan begitu cermat.
Pada awalnya pemerintah secara rahasia mengambil DNA masyarakat, tapi lambat laun proyek ini semakin digembar-gemborkan. Walaupun sebagian masyarakat masih pro dan kontra, tapi dapat dikatakan bila analisis data DNA terbilang sukses, karena sudah dapat menangkap pelaku kejahatan yang sulit ditangkap dengan cara lama.
Kagura Ryuhei sebagai penanggung jawab pun kepala analisis data DNA begitu getol dengan proyek ini. Dia juga beranggapan bila proyek ini akan semakin sukses jika masyarakat pun turut andil. Namun kala itu, otak dari perangkat analisis data DNA Tateshina Kosaku tidak seperti biasanya ingin mengajak Kagura berbicara. Dia bahkan dengan nada ragu-ragu menanyakan kesuksesan alat yang telah dibuatnya.
Walaupun pada dasarnya, proyek Kagura ada sedikit kendala dengan adanya kasus NF13 yang belum terpecahkan. Sebuah kasus yang belum menemukan titik terang siapa pelaku dalam tiga kasus pembunuhan akhir-akhir ini. Namun Kagura tidak ambil pusing dan tetap berpikir positif. Jadi, apakah karena proyek yang dikepalai Kagura kekurangan data analisis DNA ataukah alat yang diciptakan oleh Tateshina bersaudara ada cacat dan kekurangannya?
Nyatanya, proyek ini menjadi semakin pelik ketika Tateshina bersaudara (Tateshina Kosaku dan Tateshina Saki) ditemukan tewas secara misterius di kamarnya. Keduanya ditemukan dalam keadaan meninggal dengan luka tembakan dengan identifikasi pistol yang sama digunakan dalam kasus NF13. Namun yang paling mengejutkan adalah ada jejak DNA Kagura di sana.
Kagura Ryuhei, orang pertama yang mengetahui hasil analisis data itu memilih mencari jawaban sendiri. Sebab dia pun kebingungan kenapa ada DNA-nya di TKP tewasnya Tateshina bersaudara? Apakah kepribadian Kagura yang disebut “dia” pelakunya?
Fyi… Kagura Ryuhei mempunyai kepribadian ganda, salah satu tokoh “dia” yang disebut merupakan Ryu. Saat berganti kepribadian, Ryu hanya suka melukis di tempat yang sudah disediakan, yakni di rumah sakit lantai 5 di bawah tempat Tateshina bersaudara tinggal. Selama berganti kepribadian pun, Kagura dibantu oleh dr. Minakami. Jadi, tujuan Kagura mencari jawaban sendiri karena dia ingin tahu jawaban dari Ryu.
Namun sayangnya, bagaimana pun cara Kagura yang ingin berganti kepribadian, tetap tidak bisa berubah. Ryu tidak bisa muncul dan begitu membuat Kagura frustasi. Alhasil, dia mencari jawaban sendiri mengingat salah satu rekan kerjanya Shiratori Risa pernah menyinggung soal penyempurnaan dari alat data analisis DNA yang sudah ditemukan oleh Tateshina bersaudara dan disembunyikan oleh mereka, yakni bernama Mogul.
Selama pencarian Mogul, Kagura dibantu oleh Shiratori Risa, dapat dikatakan pula Risa menjadi sumber informasi Kagura yang kini jadi buron oleh kepolisian metropolitan. Sebab pihak kepolisian berhasil mengendus kecurigaan terhadap bukti di TKP dan mengira bila Ryu-lah pelaku yang sebenarnya. Dengan kata lain, polisi perlu menangkap Kagura dan mencari jawaban pada Ryu.
Aksi kejar-kejaran antara Kagura dan pihak kepolisian begitu menegangkan. Namun beruntungnya Kagura beberapa kali lolos dari kepungan kepolisian. Hingga sampai akhirnya, dia tidak bisa berkutik, saat tahu bila Shiratori Risa tewas dibunuh.
Ngomong-ngomong, dia diberi bocoran oleh Asama salah seorang detektif yang mengejar Kagura. Namun Asama tidak menaruh kecurigaan bila Kagura pelakunya. Sebab menurut Asama, tidak mungkin Kagura yang membunuh Risa karena keberadaannya sedang di luar ibu kota.
Kagura yang mendengar kabar dari Asama tidak serta-merta percaya. Namun sampai akhirnya mereka bekerja sama dan berhasil menemukan Platina Data. Isi dari Platina Data adalah data DNA orang-orang yang ingin berkuasa dan ingin lolos dari data analisis DNA. Sehingga saat dienkripsi tidak akan muncul nama pelaku melainkan NOT FOUND seperti kasus NF13.
Ketika Kagura dan Asama ingin menguji Platina Data di laboratorium, mereka tidak menyangka jika dihadang oleh dr. Minakami. Bahkan, plot twist-nya dr. Minakami merupakan NF13 yang selama ini mereka cari. Dia juga mengaku telah membunuh Tateshina bersaudara dan Shiratori Risa pun para korban NF13 lainnya.
Dia juga menjelaskan, bila dia muak dengan penguasa yang ingin mengontrol masyarakat dengan data analisis DNA. Sehingga dia juga berniat licik seperti para penguasa atau petinggi tersebut yakni dengan memanfaatkan dan mengubah data DNA.
Saat dr. Minakami beserta Asama pun Kagura bersitegang dan saling serang, beruntung dr. Minakami berhasil dilumpuhkan dan tak lama kemudian para penyidik berdatangan.
Well… begitulah akhir dari kasus Platina Data atau NF13. Bagi saya cukup menegangkan dan hampir terkecoh jika pelakunya Ryu. Sebab saya teringat drakor hyde jekyll me, yang menciptakan kepribadian baru yang bertolak dengan kepribadian tokoh aslinya.
Namun nyatanya, dalam novel ini malah Ryu karakter yang penuh perhatian dan melankolis. Dia yang juga menyadarkan Kagura bila pada kenyataannya kecanggihan teknologi tidak bisa menggantikan keestetikaan seni terapan. Perkembangan teknologi tidak bisa “merasakan” keintiman, kenikmatan karya dari yang membuatnya. Pun perkembangan teknologi tidak dapat menggantikan rasa puas pengrajinnya saat menyelesaikan sebuah karya.
“Seni itu bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh sang seniman dengan sadar dan penuh kesengajaan. Justru sebaliknya. Seni-lah yang mengendalikan seniman, kemudian lahirlah ke dunia ini sebagai karya seni.” -Kagura Shogo ayah Kagura Ryuhei (333)
Saya rasa pun, Ryu hadir karena kekecewaan Kagura di masa lalu. Ketika karya sang ayah yang seorang pengrajin tembikar dianggap kurang mempunyai nikmat seni dan kemurnian setelah digantikan oleh perkembangan teknologi. Sehingga pada akhirnya sang ayah memutuskan bunuh diri karena tidak lagi dapat membedakan karya buatan sendiri dengan karya buatan teknologi. Kemudian dari sini jugalah, awal mula Kagura tergila-gila dengan data analisis DNA. Saya kira, dia terobsesi pada data analisis DNA karena ingin balas dendam terhadap peristiwa masa lalu itu.
Di sisi lain, saya sempat pula mengira bila dr. Minakami merupakan tokoh yang perlu digarismerahi. Sebab sempat ada bagian yang cukup mencurigakan saat Kagura melakukan terapi, tapi malah dibuat pingsan. Nyatanya, kejadian itu bertepatan dengan tewasnya Tateshina bersaudara. Saya pun nggak menyangka bila firasat tentang kejadian kecil itu berhasil memantik rasa waspada saya kepada dr. Minakami. Eh, btw… sudah cocok belum bila saya jadi muridnya Detektif Conan? hahaha
“... Tembikar itu ibarat cermin. Cermin yang merefleksikan pikiran kita. Jika kau menyingkirkan distraksi dan membuka pikiranmu dengan penuh kejujuran, keramik yang terlihat jelek dimata orang lain sekalipun akan menjadi karya seni yang luar biasa indah bagimu.” -Sasori (333)

Post a Comment