Untuk Diri Sendiri Review Gadis Minimarket karya Sayaka Murata

Table of Contents

Gadis Minimarket atau Convenience Store Woman–membuat saya sering menghela napas. Apalagi ketika sang tokoh utama menceritakan kisah hidupnya, beserta printilan perilaku orang-orang disekitar yang berhasil membuat saya selalu membatin, “mereka tidak akan mengerti,” atau “mereka hanya tidak mau mencoba memahami”?

Ya, saya kira karena tidak mau mencoba memahami lebih tepat mendeskripsikan kegundahan pun yang dialami oleh Furukura sebagai tokoh dalam Gadis Minimarket ini. Sebab you know-lah… dunia tidak sebatas ada satu spesies saja. Eh, maksudnya bila manusia itu diciptakan dengan karakter yang beragam dan tidak bisa disamaratakan dengan istilah normal atau abnormal.

“Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang. Jadi karena itulah aku harus disembuhkan. Karena kalau tidak, orang-orang normal akan menyingkirkan-ku.” –Keiko Furukura (82).

Sejujurnya pun saya cukup geregetan dengan cara orang sekitar Furukawa Keiko yang seenaknya sendiri menilai dan ikut campur urusan pribadinya. Bahkan, nggak segan melibatkan diri seolah-olah mereka benar-benar peduli. Padahal, menurut pribadi saya yang dibutuhkan oleh Furukura hanya sebuah dukungan, bukan perbandingan antara normal atau abnormal. Dengan demikian, saya yakin dia tidak akan pernah lagi terjebak dalam mencari arti normal seperti pemahaman orang disekitarnya.

Memangnya bagaimana sih kisah dari Gadis Minimarket atau Convenience Store Woman karya Sayaka Murata ini, sehingga bisa membuat saya geregetan pada orang disekitar sang tokoh utama?

Review Gadis Minimarket karya Sayaka Murata
Gadis Minimarket - Sayaka Murata 

Identitas Buku

Judul : Gadis Minimarket Convenience Store Woman

Pengarang : Sayaka Murata 

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan : Pertama, 2020

Tebal : 160 hlm.

Secara singkatnya, Gadis Minimarket bercerita tentang seorang karyawan bernama Keiko Furukura. Dia sudah menjadi karyawan minimarket selama delapan belas tahun. Furukura begitu kompeten pada pekerjaannya, walaupun selama ini hanya sebatas pekerja paruh waktu hingga usianya genap tiga puluh enam tahun. Salutnya, selama ini dia begitu menyukai dan begitu berdedikasi terhadap pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata oleh orang lain itu.

Furukura bukannya tidak ingin mendapatkan pekerjaan tetap, selama ini dia sudah melamar banyak pekerjaan, tapi sayangnya belum ada panggilan. Sehingga dia hanya memiliki pengalaman kerja sebagai karyawan minimarket saja.

Hingga suatu ketika, dia dihadapkan pada suatu yang melelahkan pikiran. Ya… apalagi kalau bukan tentang penilaian orang lain pada diri Furukura. Mereka menganggap Furukura tidak mempunyai mimpi di masa depan seperti berkeluarga, mempunyai pekerjaan tetap. Bahkan, karena keengganan itu, Furukura dianggap abnormal. Sampai-sampai, ada yang berniat menjodohkannya secara terang-terangan.

Hingga pada akhirnya, dia bertemu dengan Shiraha–seorang pria dan mantan rekan kerja Furukura di minimarket. Namun sayangnya, dia seperti memanfaatkan keadaan Furukura, seolah-olah dengan adanya Shiraha di dalam kehidupan Furukura tidak perlu mendapatkan pertanyaan lagi tentang kekasih atau bagaimana masa depannya kelak.

Yups, mereka berencana berpura-pura akan menikah dan membangun rumah tangga yang normal seperti pemahaman orang-orang. Walaupun pada dasarnya, Shiraha sebatas manusia yang hanya menumpang hidup tanpa ingin bersusah payah bekerja. Bahkan, dia meminta Furukura berhenti dari minimarket untuk mencari pekerjaan tetap di luar sana. Furukura menyetujui hal tersebut, sehingga dia memutuskan untuk berhenti dari minimarket yang selama ini menjadi tempat ternyaman.

Hingga suatu ketika, ketika Furukura berhasil mendapatkan panggilan wawancara kerja, dia seolah-olah terhipnotis oleh sebuah minimarket disekitar tersebut. Dia bahkan membantu merapikan stock barang yang kurang menarik dipandang mata. 

Sampai dia menyadari bila dia memang ditakdirkan untuk bekerja di minimarket. Sebab di minimarket, Furukura merasa menjadi manusia seutuhnya, dia dapat menjadi diri sendiri tanpa perlu mempedulikan pandangan orang lain. Alih-alih terbebani dengan cemoohan orang-orang, di minimarket dia menjadi manusia seutuhnya.

Shiraha yang mengetahui Furukura berada di minimarket itu langsung naik pitam. Dia marah dan terus menerus mencemooh Furukura sebagai orang yang kolot. Namun kali ini, Furukura tidak mengindahkannya. Dia berpegang teguh pada prinsip sebelumnya, sehingga membuat Shiraha pergi dan meninggalkan Furukura.

Well… saya sangat berbahagia dengan Furukura yang berhasil menemukan jati dirinya. Apalagi keteguhan dan kesabaran dalam menghadapi mulut orang-orang di sekitarnya. Namun dia berani mengambil sikap, bila dia hanya perlu menjadi diri sendiri untuk hidup di dunia yang kejam ini. Dia perlu menjadi diri sendiri untuk tetap bersinar dan perlu menjadi diri sendiri agar tetap menjadi manusia seutuhnya.

“Sekarang aku menyadari, aku lebih dari sekedar manusia: aku adalah pegawai minimarket. Sekalipun sebagai manusia aku abnormal, aku tak bisa lari dari kenyataan itu, sekalipun tidak menghasilkan banyak uang dan harus mati kelaparan. Semua sel di tubuhku ada untuk minimarket.” – Keiko Furukura (157).







Hikmatul Ika
Hikmatul Ika Manusia yang menyukai dunia kepenulisan, baik sebagai blogger dan pengarang.

Post a Comment